{ 1 }

{ 2 }

{ 3 }

{ 4 }

{ 5 }

{ 6 }

{ 7 }

{ 8 }

{ 9 }

{ 10 }

{ 11 }

{ 12 }

{ 13 }

{ 14 }

{ 15 }

{ 16 }

{ 17 }

{ 18 }

{ 19 }

Welcome


Selamat datang di Battle Royale RPG, sebuah forum RPG yang didasarkan pada novel, film, dan manga Battle Royale yang merupakan karya Koushun Takami. Dengan melakukan registrasi di forum ini, Anda dapat menjadi peserta Program Battle Royale yang bertarung hingga mati.

Timeline Term 9: 1988/1989
Batas Kelahiran Term 9: 1 April 1973 - 31 Maret 1974

Info Kuota:
Kuota Visualisasi Non-Asia: 0/2
Kuota Relasi Keluarga: 0/3
Kuota Relasi Non-Keluarga: 0/3
Kuota Survivor: 0/1


Best viewed in Google Chrome


The Survivor


Mori Hiroaki
Navigate
Switch

Jika Anda memiliki lebih dari satu karakter dan ingin melakukan penggantian akun silahkan gunakan fungsi ini.

Info




Musim Semi

Suhu: 11 - 24°C
Tahun 1988/1989


“No Winter Lasts Forever. No Skips It's Turn.” -Unknown-

Bunga-bunga telah bersemi. Sudah siapkah rencana kalian untuk Hanami?


Contact Us





Staffs' Twitters





Latest Shouts In The Shoutbox -- View The Shoutbox · Rules -  

  Reply to this topicStart new topicStart Poll

 There's nowhere I'd rather be, (c) sometimes, Spears.
Sugimoto Eri
 Posted: May 25 2016, 02:53 PM
Quote Post




Kakak Blesteran Metong Karena Salah Rekap Yayasan Keluarga Hotar



#847
148
N/A






Rest In Pieces

N/A


N/A

equilibrium

New York, 23 Mei 1971

Yamagata

Tubuh tinggi semampai, tinggi di atas rata-rata anak perempuan Jepang, iris hitam, rambut hitam panjang sebatas punggung—lebih sering digerai. Hanya dikuncir satu ketika olahraga.

B type, feminis, emosi mudah meledak.

Hilary Rose Morgenthau. Bahasa Jepangnya kurang lancar, kalau dirumah lebih sering menggunakan bahasa asing: Perancis dan Inggris.

Awards: None




user posted image


user posted image


i
//


Hari merangkak senja, isaknya belum berhenti kala itu. Meski sekotak susu sudah diletakkan di dekatnya; rasa strawberry. Bahunya masih bergetar. Waktu telah berkata, dua jam dihabiskan hanya untuk menangis; menangis ketakutan. Pikirannya mulai terpecah antara pulang dan ingin tetap disini. Pulang, ia hanya akan cari masalah karena keadaannya yang tidak membaik. Matanya pasti bengkak dan Akemi akan bertanya padanya, sementara Eri yakin, ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun dan memilih untuk kembali menangis. Gadis ini telah mencapai titik kekuatannya, yang diam dan mencoba untuk tidak meneteskan barang setitik pun di depan orang. Baru hari ini setelah dua tahun yang lalu dihabiskannya hanya mengurung diri di rumah dan memang hidup tak pernah seramah itu.

Perlahan-lahan langit mulai menurunkan tirainya, sedikit lebih gelap. Menyadari berkurangnya intensitas cahaya, si gadis mengusap airmatanya dengan punggung tangan cepat-cepat. Sedikit sekali untuk merasakan kelegaan disana, meski tidak dengan ketakutannya. Tapi seperti ini sudah lebih baik dan seseorang menawarinya pulang, mengantarnya karena mereka kebetulan saja satu arah.

Sepanjang jalan yang dilakukannya hanya menggigiti ujung sedotan susunya, bahkan hingga isi di dalamnya habis ia tidak juga membuang kotak susunya. Gadis itu berjalan bersisian dengan seorang pemuda—yang sudah menolongnya—sambil bertanya apa motivasi pemuda itu menolongnya, padahal gadis ini telah mengibarkan bendera perang dari hari ke hari bahkan di saat pertama kali mereka bertatap muka. Ia menunduk, mengamati ujung-ujung sepatunya dan mulai berpikir bila ia merasa sedikit malu. Tapi ditepisnya kuat-kuat, Sugimoto Eri tak suka merasa kalah kecuali kalau ia yang menyerah. Ia bersikeras bahwa pemuda ini tetap menyebalkan, mencari alasan dan berputar-putar; dia menyebalkan, dia sudah melihatnya menangis. Tapi kenapa Eri tidak bisa memarahinya lagi?


ii
//


Sepanjang jalan tadi, tidak ada satupun yang membuka suara hingga kaki-kaki mereka menapaki anak-anak tangga dan berhenti di depan pintu yang berbeda, tetapi bersisian. Pintu kamar laki-laki berada tepat di sebelah pintu kamarnya, sebuah apartemen kecil dengan harga sewa yang rumah. Dindingnya hanya dicat berwarna putih dan mulai pudar di beberapa sisinya, tangganya hanya tersusun dari batu yang dilapisi semen berwarna abu, di sepanjang lorongnya hanya dipagari oleh tembok sebatas perut orang dewasa. Pemandangan di luar hanya serupa jalan setapak dan beberapa rumah kecil milik warga, bila beruntung, kadang-kadang bintang bisa kelihatan dari beranda mereka yang berada di lantai 4.

Tangannya menyentuh gagang pintu dan terdiam,

“Tengai…” Kepalanya tertunduk, memandangi warna keemasan dari gagang pintunya, “Terimakasih sudah menolongku hari ini.” Ia menggigit bibir bawahnya. Kentara sekali ada perasaan bersalah, akumulasi dari setiap perilakunya yang mungkin juga tak kalah menyebalkan dari eksistensi si pemuda.

“Dan untuk susu kotaknya, terimakasih.”

Gadis ini menunduk, salah satu kakinya menggeser keset yang diletakkan di depan pintu. Tangannya yang bergerak menarik gagang pintunya tertahan, dikunci. Akemi biasa menyimpan kuncinya dibawah keset mereka dan Eri menemukannya—

—menemukan selembar kertas disana.


Eri-chan, ibu, ayah dan adikmu pergi kerumah Bibi Aiko, tadi ibu dan ayah menunggumu untuk berangkat bersama, tapi sampai jam 4 tadi kau belum ada tanda-tanda akan pulang, jadi sementara ini kau menginap saja di tempat Hikaru-kun ya. Ibu juga menitipkan pesan yang sama. Baik-baiklah kalian dan jangan bertengkar. Hubungi Bibi Aiko kalau ada sesuatu yang gawat, nomornya ada di belakang kertas ini. Salam sayang, Akemi.



Eri menarik nafasnya dalam-dalam, kedua matanya terpejam.

Ia mulai mengangkat wajahnya dan berpaling, menoleh pada Tengai Hikaru yang masih berdiri di depan pintu—sama sepertinya.

“Kau menerimanya, Tengai?” Ia mengacungkan lembaran surat dari Akemi, “Dia menyebalkan, ya ‘kan?”

This post has been edited by Sugimoto Eri: May 25 2016, 02:54 PM

--------------------

We're different and the same
We're a thousand miles from comfort, we have traveled land and sea. But as long as you are with me, there's no place I'd rather be. I would wait forever, exalted in the scene, as long as I am with you, my heart continues to beat. If you gave me a chance I would take it. It's a shot in the dark but I'll make it. Know with all of your heart, you can't shake me. When I am with you, there's no place I'd rather be
It's easy being with you, sacred simplicity

PM
^
Tengai Hikaru
 Posted: May 27 2016, 09:43 PM
Quote Post




Abang Ganteng Mirip Stuntman Hobi KM Yayasan Keluarga Hotaru Gak



#822
129
N/A






Rest In Pieces

Hotaru


anak pindahan pas kelas 3 *serah*

Otoko

Kyoto 140471

Fukushima

Tergantung situasi, biasanya rapi

Loyal|| Kalem|| Lebih dewasa ketimbang anak seumurannya

code name: Ace 11 || Undercover bodyguard || Jago main game judi (...) terutama yg model papan ama kartu

Awards: None




Ada lebih dari seratus dua puluh kali ia mengacak-susun ulang rubik, alias benda wajib nomor dua yang senantiasa bercokol di dalam tasnya setelah buku pelajaran. Bahkan jari-jemarinya belum juga berhenti memutar-mutar, namun gerakannya sengaja diatur santai, cukup satu menit per kubus. Definisikan saja ia sedang latihan persiapan menuju kompetisi rubik tingkat amatiran. Padahal, realitanya putra angkat Minato memang tengah kurang kerjaan, ketimbang ia mematung seperti pertapa gua. Dalam hati ia baru tahu kapasitas kantong air mata perempuan sanggup menampung hingga puluhan liter cairan. Bayangkan, selama dua jam telinganya digaungi senandung muram dari delima yang tersedu-sedan. Dan ia berusaha betah karena Hikaru sendiri dilanda kebuntuan ide. Ia sudah mengobrak-abrik akalnya selama setengah jam demi mencari cara untuk menghibur, lebih-lebih sekadar menenangkan tangisan tetangganya. Sayang hasilnya, nihil.

Lagipula, pemuda pasif ini memiliki banyak keterbatasan berekspresi. Ditambah lagi, meski matanya sesekali melirik sulung Sugimoto, fokusnya lebih sering berpencar bak anak indigo yang asyik menerawang. Terkadang yang dipasatinya lamat-lamat ialah udara, seolah terkandung warna dalam zatnya. Terkadang pula ia bertanya-tanya, apa ia malah mengganggu? Setahunya seseorang lebih suka dibiarkan sendiri ketika pelampiasan emosinya berujung air mata. Ia pun sadar, betapa sentimennya Sugimoto Eri terhadapnya sejak hari pertama mereka berkenalan. Andaikata diminta menyingkir lalu menunggu di depan gerbang sekolah, tidak masalah baginya. Toh, Hikaru tidak akan lupa dengan ajakan pulang bersama. Sembari memastikan anak gadis tetangganya tidak diganggu oleh siapa pun sampai nanti keduanya tiba di depan pintu apartemen.

Omong, omong tidak terasa hari mulai gelap. Ini pengalaman perdana ia berlama-lama di sekolah. Bahkan ia tidak menjumpai lagi satu-dua siswa yang baru selesai kegiatan klub, semua barangkali sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Aba-aba pulang yang ditunggunya sedari tadi akhirnya menunjukkan tanda-tanda. Tubuhnya menegak setelah terlebih dahulu Sugimoto beranjak dari posisi duduk. Buru-buru dimasukkan rubiknya ke dalam tas. Tangannya menarik ujung jas juga kemeja seraya merapikan seragam sebelum tungkai kakinya diayun mensejajarkan langkah dengan sang dara.

Selama perjalanan, ia masih belum membuka suara. Antisipasi kalau-kalau tindakannya itu justru menambah runyam suasana hati si gadis. Lebih baik ia menciptakan keheningan yang kondusif. Perlu kau ketahui, jarak antara sekolah dan apartemennya cukup ditempuh lebih kurang dua puluh menit dengan jalan kaki. Biasa ia tidak langsung pulang. Ada kalanya ia diberi amanat menjaga putri tuan Fukuhara, menjamin gadis itu pulang dengan selamat bila supirnya berhalangan menjemput. Selebihnya, dihabiskan waktunya hingga larut menjamah tempat-tempat baru di mana sosok yang tertera di jurnalnya berada. Itu pula penyebab Hikaru mencecap buah simalakama. Entah beberapa nilai mata pelajaran, terutama eksaktanya anjlok.

Dihela nafasnya.

Mungkin ada baiknya ia pulang lebih awal hari ini. Tugas sekolahnya lumayan berat. Hng.

Lelaki Tengai mempersilahkan putri tetangganya menapaki tangga duluan, barulah ia mengekor dari belakang. Dirogoh saku celananya mengeluarkan kunci dengan gantungan berwujud tokoh game versi chibi—pendekar China, Chun Li namanya. Ia belum benar-benar membuka pintu, kuncinya masih berada di dalam genggamannya sebab perhatiannya mendarat pada Sugimoto belia. Ujung bibirnya hanya ditarik ala kadarnya, cendrung kaku, selepas ucapan terima kasih mampir di telinganya. Dalam citraan imajinatif, maknai saja ia barusan tersenyum.

Dan ternyata ini bukanlah klimaks dari kebersamaan keduanya yang tergolong tumben-tumbenan. Kelopak matanya mengerjap, melirik secarik kertas yang diperlihatkan kepadanya. Seraya paham dengan pesan yang tertulis di sana, dibuka pintu apartemennya. Tak lupa menegur pelan tanpa bermaksud menyinggung,”Jangan bicara begitu Sugimoto-san!” Mau bagaiamana lagi, satu keluarga Sugimoto sudah berusaha menunggu, dan terpaksa pergi minus putri semata wayang mereka.

“Masuklah ke dalam, kau pasti lelah.”

Kepalanya dikedikkan pada isi apartemen miliknya.

--------------------
Forgetting all the hurt inside, You've learned to hide so well. I’ve never been perfect. But neither have you. When my time comes. Forget the wrong that I’ve done. Help me leave behind some. Reasons to be missed. And don’t resent me. And when you’re feeling empty. Keep me in your memory. Leave out all the rest

♠♠♠ Leave Out All the Rest
PM
^
Sugimoto Eri
 Posted: May 30 2016, 09:50 AM
Quote Post




Kakak Blesteran Metong Karena Salah Rekap Yayasan Keluarga Hotar



#847
148
N/A






Rest In Pieces

N/A


N/A

equilibrium

New York, 23 Mei 1971

Yamagata

Tubuh tinggi semampai, tinggi di atas rata-rata anak perempuan Jepang, iris hitam, rambut hitam panjang sebatas punggung—lebih sering digerai. Hanya dikuncir satu ketika olahraga.

B type, feminis, emosi mudah meledak.

Hilary Rose Morgenthau. Bahasa Jepangnya kurang lancar, kalau dirumah lebih sering menggunakan bahasa asing: Perancis dan Inggris.

Awards: None




07.00 PM
//


Ini tidak seperti pertama kali saat ia memutuskan untuk mengiyakan permintaan ibunya untuk mengantarkan kue ke tempat Tengai. Akemi entah kenapa memiliki afeksi berlebihan pada Hikaru yang membuatnya kontan merasa jengah dari waktu ke waktu dan menganggap pemuda itu sebagai saingan tetapnya dari hari ke hari. Eri selalu menjadi lebih sensitive bila Akemi menyinggung nama Tengai atau berusaha membuka percakapan soal pemuda itu. Muaknya semakin terasa ketika Sullivan terlalu sering mengolok-olok dirinya dan memuja-muja pemuda Tengai, mengatakan padanya kalau Hikaru lebih pantas menjadi kakaknya dibandingkan dia. Eri juga bersikeras untuk tidak berbaik hati pada Tengai Hikaru atau mungkin menganggap pemuda itu tidak ada. Tetapi setiap minggu, Akemi menjadi lebih rajin dari biasanya dan Sullivan selalu menghilang setiap sore, usut punya usut ketidakbiasaan keluarganya bersumber dari kamar tetangga sebelah. Akemi yang biasanya ogah menyentuh dapur, mengolah adonan kue dan berjibaku dengan tepung-tepung pada akhirnya menceburkan diri disana, berlama-lama membuat sekadar bolu atau muffin atau apa saja yang enak dimakan dan adiknya baru akan kembali selepas pukul 8 malam dengan wajah anak gembala, sulur-sulur kesenangannya memuncak dan kemudian lupa daratan; alias memangku kesenangan akibat bermain game di apartemen Hikaru tanpa mengingat waktu.

Perubahan itu terus terjadi, sayangnya ada bagian yang membuatnya terus bercokol dengan rasa sebal tatkala Akemi menempatkannya hanya sebatas kurir yang mengantar kue atau makanan ke tempat Hikaru dan membuatnya lebih sering bertemu dengan pemuda Tengai.

Satu-satunya yang barangkali belum berubah adalah ayahnya. Ayahnya terlihat sibuk dengan pekerjaannya, pekerjaan yang ia lakoni setelah tiba di Jepang, sejak atribut pekerjaannya dilepaskan dan ia seolah-olah tak punya tempat; yang dikerjakannya hanya berkutat dengan kode-kode, matematika terapan dan kawan-kawannya. Sebulan hanya ada waktu 2 kali keluar dari kamar, sisanya? Tidak perlu ditanya. Ayahnya jelas tidak seberapa tahu mengenai Tengai Hikaru, Eri juga tidak menceritakannya. Tidak penting. Begitulah adanya. Ayah juga tidak berusaha bertanya seperti apa rupa pemuda itu, bagaimana dia memperlakukan Eri? Apakah sama dengan anak-anak lainnya? Perbedaan Budaya menjadi benturan paling keras di masa-masa hidupnya—hanya karena latar belakangnya yang begitu berbeda—tetapi itulah isociety, lingkungan yang begitu kejam, tidak mengenal ampun.


07.30 PM
//


Walaupun sebenarnya Hikaru tak punya salah apa-apa pada Eri. Pemuda itu bahkan tidak pernah mengejeknya, tidak pernah sekalipun mengolok-olok latar belakangnya yang notabane tidak diterima oleh khalayak. Hikaru juga tidak pernah menuding Eri yang macam-macam seperti darah kotor, keturunan haram atau apapun, Tengai bahkan tidak pernah sekalipun melibatkan dirinya tapi entah kenapa emosi yang meluap-luap saat melihat Tengai Hikaru mengorbit itulah yang dijadikan alasan irasional Eri untuk terus memusuhi pemuda itu. Mengingkari fakta bahwa ia membenci pemuda itu dengan amat sangat tetapi Tengai sekali lagi harus membuatnya menyadari kalau emosinya hanya sebatas ketidaktahuan Eri mengenai Tengai.

Ia menghela nafas.

Akemi tidak memberitahunya bila mereka akan pergi kerumah Bibi Aiko, tidak tahu juga dengan urusan keluarga karena pada dasarnya Eri tidak pernah benar-benar dekat dengan keluarga ibunya. Meskipun kata Akemi, masih ada satu dua orang keluarganya yang sangat peduli dengan kondisi Akemi setelah ia menikahi ayahnya. Yah apapun itu, Eri tidak peduli.

Gadis Sugimoto melepas sepatunya, membelakangi pintu utama dan melihat lorong di depannya. Untuk yang kesekian kalinya ia kembali ke tempat ini, tanpa kue, tanpa makanan manis yang biasa dimasak oleh Akemi. Ia pun menapaki satu undakan rendah dan mulai berjalan di tengah lorong sebelum mencapai ruang tengah. Masih berdiri disana, menunggu Tengai Hikaru jalan lebih dulu, pemuda itu Tuan Rumah ‘kan?

“Lebih tepatnya aku kelaparan,” Karena Eri hanya mengosumsi satu kotak susu strawberry saja, “Aku butuh lebih banyak susu.” Ia memandangi langit-langit apartemen Tengai. Putih, bersenandung pucat dengan bentuk persegi yang simetris.

This post has been edited by Sugimoto Eri: May 30 2016, 09:52 AM

--------------------

We're different and the same
We're a thousand miles from comfort, we have traveled land and sea. But as long as you are with me, there's no place I'd rather be. I would wait forever, exalted in the scene, as long as I am with you, my heart continues to beat. If you gave me a chance I would take it. It's a shot in the dark but I'll make it. Know with all of your heart, you can't shake me. When I am with you, there's no place I'd rather be
It's easy being with you, sacred simplicity

PM
^
Tengai Hikaru
 Posted: May 31 2016, 12:42 PM
Quote Post




Abang Ganteng Mirip Stuntman Hobi KM Yayasan Keluarga Hotaru Gak



#822
129
N/A






Rest In Pieces

Hotaru


anak pindahan pas kelas 3 *serah*

Otoko

Kyoto 140471

Fukushima

Tergantung situasi, biasanya rapi

Loyal|| Kalem|| Lebih dewasa ketimbang anak seumurannya

code name: Ace 11 || Undercover bodyguard || Jago main game judi (...) terutama yg model papan ama kartu

Awards: None





user posted image

♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠♠


Awalnya ia kira, berdasarkan apa yang ia baca dari koran dan ia tonton dari kotak audiovisual individu perkotaan cenderung apatis. Tidak mau tahu siapa gerangan yang baru pindah, lebih-lebih yang sudah lama menjadi penghuni tetap sekitaran areanya. Kalau pun ada seonggok mayat yang membusuk dari ruang sebelah baru akan diketemukan bila baunya terendus. Barangkali Tengai Hikaru salah kaprah, barangkali pula itu hanya berlaku di kawasan metropolitan, tepatnya di Tokyo sana. Sebab, apartemennya sendiri tidak surut dari kunjungan selain ayah angkatnya yang rutin menengok keadaan putranya sebulan sekali. Adalah keluarga Sugimoto minus ketua rumah tangga yang lumayan sering bertukar interaksi dengannya. Entah sang nyonya yang menghadiahinya pujian tatkala berpapasan di lorong. Entah juga si anak gadis yang disuruh mengantarkan panganan manis dengan raut kecut. Kemudian anggota paling muda mereka yang tiap ia pulang cepat terlebih hari libur gemar mengajaknya mencetuk-cetuk tombol kontroler sampai ia tidak lagi mengindahkan tugas sekolahnya.

Beruntung asal muasalnya tidak dipersoalkan sejauh ini. Pun ia tidak dilaporkan ke pihak berwenang oleh tetangganya yang mencurigai sumber perbendaharaan yang ia miliki. Tidak lazim bagi anak sekolah menengah pertama yang mengaku merantau dari kawasan pegunungan, yang barang tentu citranya tak jauh-jauh dari stigma anak kampung, tinggal di sebuah apartemen dengan fasilitas terjamin kelengkapannya. Bahkan ia punya video game, kulkas yang selalu terisi bahan makanan segar, sofa nyaman untuk diduki, hingga dapur yang jarang sekali digunakan kecuali dalam rangka memanaskan air. Ukuran ruangannya pun tergolong luas untuk apartemen yang dihuni satu orang, padahal notabene ia masih terbilang remaja ingusan, mustahil ia digaji delapan ratus yen per jam andaikata secara sembunyi-sembunyi ia kerja paruh waktu. Paling kisaran tiga sampai lima ratus yen.

Maka daripada itu, sepatutnya Hikaru banyak bersyukur. Namun karena ia mengenal betul figur tuan Minato, ia tidak merasa janggal dengan tempat yang menjadi lingkungan sehari-harinya kini. Pria itu pasti sudah melakukan riset terlebih dahulu tentang di mana pemuda ini akan menetap nantinya, termasuk informasi seputar penghuni pada kedua samping apartemennya. Hikaru toh tinggal terima beres. Pasalnya mana mungkin ada agen sewa yang percaya jika ia sendiri yang nekat mengurusi prasyarat kontrak apartemen, kalau bukan ucapannya dianggap main-main atau bercanda kelewatan.

Dan tempat yang ia sebut acapkali kedatangan tamu, sekarang juga tak luput dari kehadiran orang lain. Nampaknya ia harus memasok kesabaran lebih ekstra, karena kau tahu, Sugimoto Eri selalu saja berulah untuk sekadar membuatnya jengkel. Tak tahu alasannya kenapa, seingatnya pun ia tidak pernah mengusik urusan gadis itu. Namun, berhubung dalam etika bertetangga selayaknya ia memberi bantuan tanpa pandang bulu, Hikaru dengan senang hati membagi kenyamanan markas naungannya.

Ketika disinggung makanan, lelaki ini ingin sekali menceletuk,’biasanya kan kau langsung ambil susu di kulkasku tanpa bilang-bilang’. Namun, ia mengenyahkan kalimat yang justru tidak terdengar etis. Melainkan, kalimat khasnya yang umumnya terkesan menggurui;

“Sesuatu yang berlebihan itu tidak bagus buat kesehatan. Tulangmu bukannya tambah kuat malah keropos dini ,”ujarnya sembari mengunci pintu.”Jadi minum susunya lanjut besok pagi saja ya, Sugimoto-san.” Langkahnya diarak menuju pintu kayu bercat putih—kamarnya, lantas meletakkan tas sekolahnya di dudukan kursi belajar. Jari-jemarinya menarik dasi yang membebat leher, alih-alih melucutinya. Dua buah kancing teratas kemejanya dibuka. Dihampiri lemari minimalis gelap, memilah-milah baju yang ada di sana. Cukup lama ia mencari mana yang pas, hingga diambilnya kaos bergambar Mario Bross—souvenir pembelian kaset video edisi dua tahun lalu. Sama sekali belum pernah dipakai karena terlalu kekanakan pikirnya, ukurannya juga kekecilan. Ia sempat berniat menghibahkannya pada Sullivan sayang kelupaan melulu.

Satu kaos dan satu celana pendek santai ditaruhnya di atas ranjang.

Lekas ia keluar dari kamar, alih-alih tidak mau terlalu membuat menunggu tamunya.

“Aku sudah siapkan baju ganti kalau kau mau mandi duluan.” Jari telunjuknya diarahkan ke isi kamar yang pintunya sengaja tidak ia tutup, menyisakan celah untuk mengintip.

“Katamu tadi lapar kan? Di meja sudah ada makanan.” Mata gelapnya diorbitkan ke sudut terujung, di mana dapur dan meja makan berada di satu ruang. “Aku tidak tahu seleramu seperti apa, tapi aku berani jamin masakan bibi Harada rasanya enak.”--bibi Harada itu tidak bisa dibilang asisten rumah tangga omong-omong, memang kebetulan beliau ingin punya uang saku lebih banyak. Terlebih wanita itu belum dikaruniai anak sehingga mengaku bosan kalau hanya jadi ibu rumah tangga biasa.

This post has been edited by Tengai Hikaru: May 31 2016, 12:50 PM

--------------------
Forgetting all the hurt inside, You've learned to hide so well. I’ve never been perfect. But neither have you. When my time comes. Forget the wrong that I’ve done. Help me leave behind some. Reasons to be missed. And don’t resent me. And when you’re feeling empty. Keep me in your memory. Leave out all the rest

♠♠♠ Leave Out All the Rest
PM
^
Sugimoto Eri
 Posted: Jun 1 2016, 06:30 AM
Quote Post




Kakak Blesteran Metong Karena Salah Rekap Yayasan Keluarga Hotar



#847
148
N/A






Rest In Pieces

N/A


N/A

equilibrium

New York, 23 Mei 1971

Yamagata

Tubuh tinggi semampai, tinggi di atas rata-rata anak perempuan Jepang, iris hitam, rambut hitam panjang sebatas punggung—lebih sering digerai. Hanya dikuncir satu ketika olahraga.

B type, feminis, emosi mudah meledak.

Hilary Rose Morgenthau. Bahasa Jepangnya kurang lancar, kalau dirumah lebih sering menggunakan bahasa asing: Perancis dan Inggris.

Awards: None




Ia membanting diri ke salah satu sofa dengan dudukan yang memanjang. Menaruh tasnya secara serampangan dan menaikkan kedua kakinya, tubuhnya dibaringkan sejenak alih-alih tergolek diatas sofa yang demikian empuk. Ingat, ini bukan kali pertama si gadis singgah ke apartemen sebelah rumahnya. Ia sudah berkali-kali masuk kemari dan duduk di sofanya yang empuk, namun belum pernah sekalipun menetap lebih lama dari dua atau tiga jam. Berbeda dengan kali ini karena dia harus bermalam—dengan terpaksa. Kalau biasanya mungkin Tengai ingin mengusirnya karena perbuatannya yang seenaknya; mengingat lemari pendingin milik si pemuda selalu penuh dengan makanan dan ya, tidak pernah absen dengan susu-susu dalam kemasan kotak, Eri kerap kali mencomot satu dua untuk dikonsumsi secara pribadi. Ia kadang menganggap kalau rumah ini adalah rumahnya juga, menginvasinya terutama bagian lemari pendingin yang tidak pernah absen dari longokan kepalanya tiap kali ia datang.

Tetapi kali ini nampak beda, ia telah kehilangan semangatnya untuk sekadar melongok ke lemari pendingin seperti yang sudah-sudah. Rasanya sejak kejadian sore itu, segalanya memengaruhi si gadis, ia menutup matanya sejenak. Tidak mau tahu apa yang dilakukan Hikaru dan tidak peduli juga sampai ia mendengar suara pemuda itu berkata soal pakaian dan makanan.

Eri menutup sebagian wajahnya dengan tangannya yang kurus hingga hanya tersisa hidung dan bibirnya saja.

“Terimakasih,” Tanpa punya keinginan apapun untuk bergerak dan gadis ini hanya terdiam di tempatnya, “Bibi Harada? Aku baru tahu kamu punya keluarga disini, kupikir kamu sebatang kara.” –karena Akemi cerita padanya kalau Tengai Hikaru adalah anak rantau yang tinggal sendirian. tapi tadi pemuda itu menyebutkan Bibi Harada, entah siapa Bibi Harada itu; yang jelas Eri belum pernah melihat sosoknya selama ia tinggal. Mungkin memang keluarga pemuda itu yang datang untuk mengurusnya atau pembantu yang disewa Tengai.

Ia menyuruk dirinya untuk menegapkan punggung dan menatap Tengai dengan kepala yang dimiringkan.

Tidak biasanya Tengai menunjuk kamarnya tanpa rasa dosa, biasanya pemuda itu mencegah dirinya untuk masuk kamar. Entah apa yang pemuda itu punya di dalam kamarnya, mungkin ada banyak majalah dewasa bertebaran. Tapi kalau dilihat-lihat dari wajahnya, tidak ada tanda-tanda mesum disana, dan lagipula kalau Tengai menyimpan majalah dewasa itu juga bukan masalah buat Eri. tandanya tho pemuda itu normal. Ia menarik nafas, ogah-ogahan berdiri dan menyeret kakinya ke kamar si pemuda.

“Tumben aku boleh ke kamarmu, biasanya kamu ngomel.” Ia setengah berteriak ketika melongok ke dalam kamar Tengai. Cukup rapi untuk seukuran anak laki-laki, ia tidak bia bilang kamar Tengai seperti kamar lelaki pada umumnya karena kamar Sullivan saja tidak serapi ini. si Bocah kecil bermata biru dengan rmabut sedikit cokelat itu saja selalu menaruh bantalnya dimana-mana dan ada banyak kertas bekas ujian harian disana atau beberapa kaset permainan yang entah dibeli dimana. Tetapi daripada itu, Eri bergegas membersihkan dirinya dan memakai pakaian yang disediakan Tengai. Surai hitamnya dicepol ala kadarnya, membuat helai-helai rambutnya pada bagian belakang mencuat-cuat keluar, menyulur di belakang tengkuknya dan disamping pelipisnya.

Begitu kedua kakinya menapaki bagian luar kamar mandi dengan wajah setengah basah, bibirnya menekuk.

“….. Mario Bross, bajunya kayak ngeledekin aku.” Ia menatap bagian depan bajunya dan kemudian meletakkan handuk kecil berwarna putih itu di salah satu bahunya. Sugimoto tidak ragu beranjak menuju meja makan dan membuka tudung saji. Melihat Tamago Gohan (semacam nasi telur), Chicken Karaage yang nampaknya menggugah selera. Belum lagi buah-buahan yang tersedia. Eri meneguk salivanya, Akemi terkadang hanya memasak Kari Ayam dan Takoyaki abal-abal. Untung saja adiknya tidak protes berlebihan, “Tengai, temani aku makan…” Tangannya masih memegangi pinggiran tudung saji dan menoleh pada pemuda itu. Kata Akemi kalau makan sendirian itu tidak enak dan makan bersama jauh lebih menyenangkan. Biasanya akan ada banyak obrolan yang terlontar begitu saja demi mengakrabkan suasana.

Yah Eri tidak tahu sih karena keluarganya juga jarang sekali makan bersama, paling hanya satu kali dalam seminggu saja, itupun kalau Ayahnya mau menampakkan diri ke ruang tengah atau ruang makan.

This post has been edited by Sugimoto Eri: Jun 1 2016, 06:32 AM

--------------------

We're different and the same
We're a thousand miles from comfort, we have traveled land and sea. But as long as you are with me, there's no place I'd rather be. I would wait forever, exalted in the scene, as long as I am with you, my heart continues to beat. If you gave me a chance I would take it. It's a shot in the dark but I'll make it. Know with all of your heart, you can't shake me. When I am with you, there's no place I'd rather be
It's easy being with you, sacred simplicity

PM
^
Tengai Hikaru
 Posted: Jun 5 2016, 10:18 PM
Quote Post




Abang Ganteng Mirip Stuntman Hobi KM Yayasan Keluarga Hotaru Gak



#822
129
N/A






Rest In Pieces

Hotaru


anak pindahan pas kelas 3 *serah*

Otoko

Kyoto 140471

Fukushima

Tergantung situasi, biasanya rapi

Loyal|| Kalem|| Lebih dewasa ketimbang anak seumurannya

code name: Ace 11 || Undercover bodyguard || Jago main game judi (...) terutama yg model papan ama kartu

Awards: None




Sekilas sorot matanya memipih dingin. Namun tidak benar-benar ditanggapi serius argumen yang menyentilnya barusan, alih-alih dianggap bongkahan kata yang tercetus asal. Batinnya pun cukup mengiyakan tanpa berniat menimpali lewat verbal; memangnya kenapa kalau aku sebatang kara?

Yatim piatu, parahnya anak laki-laki ini dinyatakan meninggal pada usia ke-enam dengan sebab musabab mati terbunuh. Tubuhnya sudah dikebumikan(—raga pengganti yang dibeli dari mafia pembisnis mayat untuk kepentingan praktek mahasiswa). Fotonya dipajang di meja altar dengan sebaran bunga lili segar yang diganti tiga hari sekali. Bahkan berita pembantaian satu keluarga di dalam kereta wisata sempat menjadi perbincangan banyak orang. Jadi siapakah ia? Ketahuilah Tengai Hikaru yang kau kenal hanya tokoh rekaan. Akte kelahiran, riwayat akademis, hingga dokumen berisi keterangan asalnya sudah dimanipulasi. Sementara marganya sendiri hibahan. Dan dunia yang dipijaknya masih lah kenyataan, bukan tahapan dari prosesi renkarnasi. Tapi ia tidak menampik bahwasannya ia seperti terlahir kembali setelah menyandang titel Tengai Hikaru.

Karena, hanya itu syarat agar ia tetap selamat.

Sesungguhnya Hikaru bisa saja mengumumkan pada jagat raya bila putra Tsukahara Akihito masih utuh dan bernafas, bukan sosok gentayangan yang muncul dari alam tidur kolega dekatnya. Namun sebagai ganti batok kepalanya jadi taruhan, siap-siap saja sehari kemudian berseliweran kabar tentang tewasnya sang pewaris pada headline media cetak. Harap dicamkan, tidaklah sesederhana itu permainannya, bung. Sangat amat picik dan rapi, terlebih menyangkut perihal nyawa. Ibarat game konsol, jika kau ingin menang, kau wajib kalahkan sang boss besar yang diperkaya Health Point kelipatan tiga dari milikkmu serta diperkuat damage serang yang tidak kalah besar. Sementara hingg kini, ia masih harus berburu data, menggali informasi sebanyak mungkin. Dan itu tidaklah mudah mengingat usianya terbilang usia yang disepelekan, usia yang banyak sekali batasan dan pantangan, ditambah apa yang ia lakukan dirahasiakan betul dari atensi ayah angkatnya—

—juga orang awam di sekelilingnya. Mereka cukup mengenalnya sebagai indvidu pasif, pelajar Hotaru gakuen, tetangga dari Sugimoto Eri yang saat ini tengah memperdebatkan kamarnya.

Nafasnya dihembuskan halus bersama desahan.

“Hari ini pengecualian.” –ia akui memang ia paling tidak suka privasinya digeledah. Terlebih ia menyimpan jurnal dan perlengkapan pengawal pribadi di dalam kamar. “Mana mungkin aku membiarkanmu tidur di sofa.” Selaku tetangga sudah sepatutnya ia mengulurkan bantuan dengan menjamin kenyamaan si gadis, memprioritaskan pelayanan yang dibutuhkannya selama menginap. “Kamar mandiku juga letaknya di dalam kamar. Kalau kularang masuk sama saja kau tidak mandi seharian.”Jelasnya panjang lebar. “Memangnya tahan?”—sudah seharian beraktivitas di luar, entah ada kuman, debu, bekas keringat yang menempel di kulit. Manalagi, kaum hawa diketahui sering merepotkan hal-hal yang berhubungan dengan perawatan tubuh.

Sembari sulung Sugimoto menggunakan kamarnya, pemuda ini memilih duduk di sofa. Bola matanya sempat berputar malas dengan kepala digelengkan sekali begitu mendapati tas sang dara digeletakkan sembarangan. Tanpa buang-buang waktu diberdirikannya posisi tas tersebut, menaruhnya di pinggir sofa. Lalu disambarnya remot di atas meja kaca, menyalakan TV. Ditekan tombol remotnya berulang-ulang, mencari siaran berita malam seolah mengabaikan tugas yang mesti dikumpul besok.

Berselang lima belas menit namanya dipanggil. Kepalanya otomatis menoleh ke belakang mengikuti sumber suara. Rupanya anak tetangganya sudah selesai mandi dan tengah memeriksa panganan di balik tutup saji. Pemuda ini pun beranjak tegak, mendekati Sugimoto yang sedetik lalu memintanya makan bersama. Dihampirinya meja makan yang ukurannya persis sepanjang meja yang ada di kelas dengan dua buah kursi yang saling berhadapan. Diambil piring juga beberapa mangkok tambahan dari rak piring yang kemudian diletakkannya di sisi Sugimoto nantinya duduk.

Ditarik kursinya lantas mendudukkan dirinya di sana. Lehernya dijulurkan melihat menu makan malamnya.

Ya, tetap menggugah selera seperti biasa.

Dibuka penanak nasi yang segera memunculkan uap tipis. Disendok isinya, menaruhnya ke dalam mangkok. Perhatiannya sejenak dialihkan pada Sugimoto sembari berkata,“Tidak usah malu, makan saja sebanyak yang kau mau.”—rasanya tanpa diberi tahu begitu gadis itu toh biasanya memang tidak tahu malu. Isi kulkasnya sudah lumayan sering dijarah. “Soalnya aku sendiri ngga bakal habis.” Ia sudah berkali-kali mengingatkan terkait porsi makannya, tapi rasanya percuma. Bibi Harada tidak mau dengar. Wanita itu menilai badan Hikaru kurus mendekati ceking, kurang asupan nutrisi. Padahal ia pikir berat badannya normal-normal saja. Hng.

--------------------
Forgetting all the hurt inside, You've learned to hide so well. I’ve never been perfect. But neither have you. When my time comes. Forget the wrong that I’ve done. Help me leave behind some. Reasons to be missed. And don’t resent me. And when you’re feeling empty. Keep me in your memory. Leave out all the rest

♠♠♠ Leave Out All the Rest
PM
^
Sugimoto Eri
 Posted: Jun 18 2016, 12:46 AM
Quote Post




Kakak Blesteran Metong Karena Salah Rekap Yayasan Keluarga Hotar



#847
148
N/A






Rest In Pieces

N/A


N/A

equilibrium

New York, 23 Mei 1971

Yamagata

Tubuh tinggi semampai, tinggi di atas rata-rata anak perempuan Jepang, iris hitam, rambut hitam panjang sebatas punggung—lebih sering digerai. Hanya dikuncir satu ketika olahraga.

B type, feminis, emosi mudah meledak.

Hilary Rose Morgenthau. Bahasa Jepangnya kurang lancar, kalau dirumah lebih sering menggunakan bahasa asing: Perancis dan Inggris.

Awards: None




Katsu Donburi, Ebi Tempura, ya makanannya enak-enak sekali.

Sugimoto menarik satu kursi untuk diduduki dirinya dan mulai mengambilkan nasi ke dalam piringnya—tidak banyak karena memang porsi makannya hanya sedikit, paling banyak lima suap itupun kalau dia tidak malas mengunyah. Kadang-kadang soal makan, Akemi suka mengeluh karena si gadis makannya sedikit namun pada waktu-waktu tertentu, Eri bisa saja makan sampai 3 porsi orang dewasa, mungkin ketika ia mendapatkan period-nya maka semua makanan yang ada sudah pasti dilahapnya secara sukarela tanpa memikirkan soal timbangan. Selepas itu makanan hanyalah tinggal kewajiban saja agar perut tidak kosong dan asam lambung stabil.

Kalau melirik porsi makan Hikaru bahkan masih lebih banyak pemuda itu daripada dirinya dan ini terlihat menyedihkan sekali. Tapi omong-omong ia baru kali ini makan dengan orang lain selain keluarganya terutama ibu dan adiknya, Sullivan. Ayahnya jangan ditanya, pria itu tidak jarang mengurung diri di kamar dan hanya akan muncul di waktu-waktu tertentu yang dia kehendaki. Gadis Sugimoto menangkupkan tangannya, ia berdoa menurut kepercayaannya dan setelah kata ‘Amen’ ia baru menyuap dirinya dengan Katsu Donburi beserta nasi.

“Setiap hari kamu makan sendirian begini?”

Ini bukan pertanyaan usil yang ia sengaja tapi mengingat kata Akemi, Tengai Hikaru adalah anak rantau yang kebetulan datang ke kota dan hidup sendirian meskipun ada banyak kejanggalan soal anak rantau dari desa karena pemuda ini kalau dilihat-lihat punya banyak teknologi yang tidak berbasis kedesaan sebagaimana keterangan dari ibunya dan Eri bukan gadis yang polos-polos amat untuk mencerna kecurigaan dasarnya tetapi kalau ia menduga-duga secara sembarang akibatnya tentu akan lebih fatal ketimbang mendengar jawabannya langsung kalaupun memang Hikaru tidak menjawabnya secara benar atau ada fakta yang memang ditutupi darinya. Ia tho sadar diri karena Eri bukanlah siapa-siapa bagi Tengai, dia hanya tetangga yang rajin memusuhi dan berpandangan sinis terhadap Hikaru—bahkan sejak pertama kali mereka bertemu.

“Kamu nggak pernah kangen makan bareng keluargamu gitu? Nggak pernah kangen orang rumah misalnya?” Mungkin sebenarnya kalimat ini ditujukan padanya, pada Eri yang rindu dengan hal-hal sederhana di dalam rumahnya karena sejak mereka pindah kebiasaan makan malam untuk berkumpul dalam satu meja sudah lenyap tanpa jejak dan tidak bisa lagi ditemukan sisanya. Eri hanya berharap sewaktu-waktu ayahnya bisa berubah pikiran dan akan lebih terbuka dengan keluarganya meski rasanya akan sangat sulit menerima keterbukaan sejak mereka tiba di Jepang.

Eri mengunyah makanannya dalam tempo sedikit lebih lambat, terkadang ada hal yang tertinggal di dalam pikirannya dan memikirkan bagaimana hidupnya jika seperti Hikaru. Bagaimana bila ayahnya tetap menetap di Amerika sementara ia dan ibunya menetap di Jepang, itu pasti akan lebih baik karena ayahnya tak perlu mengurung diri secara intensif. Tetapi apa yang bisa ia lakukan tanpa ayahnya? Apa yang bisa ia perbuat kalau pria itu tidak hadir di kehidupannya dan tidak pergi bersama keluarga Sugimoto?

“Habis ini biasanya kamu ngapain?” Demi mengalihkan pikirannya dari perkara angan-angan di luar batas yang ia ciptakan untuk mencegah Eri berpikir yang tidak-tidak. Mencari distraksi bagi kebanyakan orang adalah hal yang paling ampuh baginya dan gadis ini telah menyelesaikan makan malamnya, ia membereskan sebagian alat-alat makannya seperti yang biasa ia lakukan di rumah kemudian membawanya ke bagian dapur untuk dicuci. Tidak sopan rasanya kalau habis makan dibiarkan begitu saja di meja sebab ia bukan Tuan Rumah. Walau tabiatnya keras kepala namun gadis Sugimoto masih punya etika yang dijunjung tinggi walau ia kadang menganggap Hikaru adalah orang yang menyebalkan tapi bukan berarti ia bisa seenaknya bersikap di rumah orang. Tangannya mulai bekerja, menyalakan air dan memutar keran agar airnya mengalir dan mulai menyabuni piringnya serta alat-alat makannya di dalam bak pencucian.

Kedua matanya tertumbuk pada gemerisik air yang ramai mengalir di wadah bak cucian. Tidak sampai lima menit ia sudah menyelesaikan bagiannya dan kembali ke ruang tengah, tapi gadis kita seperti biasa harus menjarah dua kotak susu di dalam lemari pendingin dengan perisa strawberry kesukaannya.

“Lagi apa?”

--------------------

We're different and the same
We're a thousand miles from comfort, we have traveled land and sea. But as long as you are with me, there's no place I'd rather be. I would wait forever, exalted in the scene, as long as I am with you, my heart continues to beat. If you gave me a chance I would take it. It's a shot in the dark but I'll make it. Know with all of your heart, you can't shake me. When I am with you, there's no place I'd rather be
It's easy being with you, sacred simplicity

PM
^
Tengai Hikaru
 Posted: Jun 25 2016, 11:59 AM
Quote Post




Abang Ganteng Mirip Stuntman Hobi KM Yayasan Keluarga Hotaru Gak



#822
129
N/A






Rest In Pieces

Hotaru


anak pindahan pas kelas 3 *serah*

Otoko

Kyoto 140471

Fukushima

Tergantung situasi, biasanya rapi

Loyal|| Kalem|| Lebih dewasa ketimbang anak seumurannya

code name: Ace 11 || Undercover bodyguard || Jago main game judi (...) terutama yg model papan ama kartu

Awards: None




Ia tidak menampik fakta bahwasannya mata sayunya merekam gerakan Sugimoto Eri sembari menyilahkan gadis itu mengambil nasi setelah gilirannya. Caranya menaruh nasi ke piring kelihatan jelas, etika makan ala barat masih terbawa. Terutama jari-jarinya yang bertaut memanjatkan doa(—sedikit mengingatkannya pada almarhum kakeknya, penganut aliran katolik Vatikan). Tidak ada yang salah dari caranya, dan tidak ada yang melarang jika tetap berpegang teguh pada paham dari negri seberang samudra, tapi menilik kejadian sore tadi, bukankah sudah cukup mencerahkan? Bumi yang kau pijiaki ini tidaklah ramah bagi mereka—para pendatang. Kuncinya hanya satu; adaptasi. Ikuti regulasi yang ada dan jangan banyak mengeluh. Namun siapalah Tengai Hikaru, ia yakin petuahnya hanya akan dianggap angin lalu mengingat keduanya tidak akur dalam pertalian tetangga.

Boleh dibilang, bisa makan di satu meja yang sama sudah melampaui kemajuan yang mampu ia usahakan. Biasanya ia mencoba untuk sebisa mungkin tidak mengusik dengan berangkat sekolah lebih awal atau pergi ke halaman belakang ketika jam istirahat, meski pada umumnya malah gadis itu duluan yang merecokinya dengan sejumlah komplain.

Sumpitnya mencapit tiga potong ayam goreng berbalur tepung, meletakkannya di mangkok nasi yang dipegangnya, lalu mulai menyantap suapan pertamanya. Dikunyah perlahan makanannya dengan tenang—atau tidak?

Hng…

Bola matanya sejenak diarahkan pada gadis bersurai hitam lebat, alisnya menekuk ke bawah. Satu pertanyaan sang dara, direspon dengan anggukan. Ia lupa, makan malamnya kali ini berbeda dari malam-malam sebelumnya. Biasanya, suara tunggal yang didengarnya hanyalah suara televisi dan fokusnya hanya pada makanan sepenuhnya. Ia tidak merasa ada yang salah dengan kesehariannya, karena mau tak mau rutinitas serba mandiri inilah yang harus ia jalani, meski tampaknya ia seperti bocah yang ditelantarkan.

“Kangen.” Jawabnya singkat dengan volume memelan.

Ada jeda lama bersama tarikan nafas panjang sebelum mulutnya melahap satu suapan.

“Tapi sudah nggak mungkin lagi.” Ia tidak melanjutkan alasannya, menolak mengungkit kenangannya lebih jauh. Matanya yang sejenak terasa memanas digulirkan ke lantai. Dulu, momen favoritnya adalah sarapan pagi. Tou-chan tak pernah melewatkan makan bersama sebelum pergi ke kantor, apalagi ketika grandpa masih hidup, hidungnya selalu membaui aroma espresso. Yah, setidaknya tuan Minato mengunjunginya sebulan sekali—ia sangat bersyukur masih ada yang mengurusinya selayaknya putra kandung. Bahkan ia diberi fasilitas berlimpah dan tak perlu pusing soal kebutuhan finansial.

Lagi, ia ditanya. Sudah ada tiga pertanyaan kalau dihitung-hitung. Entah apa semua anak perempuan seceriwis ini.

“Mandi.”

Hikaru beranjak dari kursi, meninggalkan peralatan makanan yang belum dibereskan. Wastafel cuci piringnya toh sudah diambil alih oleh Sugimoto duluan. Ia tidak heran lagi dengan tindak-tanduk si gadis yang seakan sudah menganggap apartemen miliknya layaknya rumah pribadi, lebih-lebih memonopoli isi dari kediamannya. Sembari gadis itu berkutat dengan spons cuci, lebih baik ia membersihkan diri dari peluh yang melekat seharian.

Langkahnya pun ditujukan ke kamar, menyegerakan diri untuk mandi. Berselang lima menit kemudian, pakaian yang dikenakannya berupa kaos putih polos dan celana longgar setengah tiang. Diliriknya tas sekolahnya, mengeluarkan buku matematika, buku tulis, dan sebuah kotak pensil. Barang-barang itu lalu dibawanya ke ruang televisi. Niatnya ingin mengerjakan tugas, namun apa daya ia keburu mengerutkan kening ketika baru membuka halaman dari soal yang pertama. Batinnya tak ayal menggerutu mendapati soalnya berbentuk cerita ngalor ngidul—anggaplah persis narasi dongeng. Nafasnya dihela dengan sangat amat lelah seolah habis mengelilingi komplek perumahan sepuluh putaran. Ditaruhnya begitu saja buku matematikanya di meja, tidak berminat menyentuhnya lagi.

Sebentar ia berpindah posisi dari sofa, berjongkok di depan rak televisi. Tangannya menyambar satu boks wadah kaset game, sibuk memilah-milah dengan seksama permainan digital mana yang menarik untuk dimainkan, meski sebagian besar sudah ia tamatkan berkali-kali.

Sekilas kepalanya dipalingkan ke belakang, bersama terdengarnya suara langkah yang mendekat.

“Main.”

Matanya kembali mencari-cari kaset game.

“Kau bisa tidur di kamarku kalau mengantuk.”

Sudah malam, toh.

--------------------
Forgetting all the hurt inside, You've learned to hide so well. I’ve never been perfect. But neither have you. When my time comes. Forget the wrong that I’ve done. Help me leave behind some. Reasons to be missed. And don’t resent me. And when you’re feeling empty. Keep me in your memory. Leave out all the rest

♠♠♠ Leave Out All the Rest
PM
^
Sugimoto Eri
 Posted: May 28 2017, 10:03 PM
Quote Post




Kakak Blesteran Metong Karena Salah Rekap Yayasan Keluarga Hotar



#847
148
N/A






Rest In Pieces

N/A


N/A

equilibrium

New York, 23 Mei 1971

Yamagata

Tubuh tinggi semampai, tinggi di atas rata-rata anak perempuan Jepang, iris hitam, rambut hitam panjang sebatas punggung—lebih sering digerai. Hanya dikuncir satu ketika olahraga.

B type, feminis, emosi mudah meledak.

Hilary Rose Morgenthau. Bahasa Jepangnya kurang lancar, kalau dirumah lebih sering menggunakan bahasa asing: Perancis dan Inggris.

Awards: None




Perisa strawberry memenuhi mulutnya, ia selalu menyukai rasa manis buah yang katanya mengandung banyak oksidan itu—Akemi sering membuatnya menjadi masker biar awet muda, katanya. Entah itu mitos atau memang mungkin fakta. Eri sendiri hanya bias mengiyakan kalau Akemi tengah heboh cerita ini dan itu, mengenai kehidupan lama dan bagaimana ia bertemu dengan ayah. Sekilas keluarganya kelihatan hangat, pertengkaran kecil mungkin ada, itu karena Eri yang keras kepala dan jarang mengalah dengan adiknya. Tetapi biar bagaimanapun kesalnya, ia tetap tidak bias membenci adiknya—satu darah. Pun kehadiran Tengai, sejenak dara terdiam, mengamati ruang dingin yang melebur bersama udara; menghabiskan sisa waktunya saat jemari-jemari kurus itu diselimuti busa sabun cuci piring. Ruang ini sejatinya akan hangat, kalau ada satu atau dua orang, keterdiaman seperti harga yang tidak bias ditawar. Eri tidak mengerti bagaimana Tengai bisa bertahan dengan semua ini; hidup sendiri dan mandiri, ada yang memasak untuknya tapi apa tidak jenuh kalau mengisi hari dengan sendiri?

Kadang Eri ingin menerima satu gambaran, satu alasan—kenapa Akemi begitu peduli pada Tengai. Anak laki-laki itu sendirian, di usianya yang masih muda dan belia.

Eri menaruh kotak susunya di lantai, ia duduk dengan menyentuhkan lututnya terlebih dulu pada lantai lalu mengamati pemuda itu dari dekat. Main game bukan proporsinya, walau ayahnya menciptakan banyak permainan yang seringkali diberikan ke adiknya. Ia teringat ayahnya yang tidak atau nyaris tidak pernah keluar kamar demi menyelesaikan program mainan yang ia buat. Adiknya seringkali menjadi bahan percobaan, sementara Eri hanya mengerti beberapa, tidak sampai mendalami atau mencoba karena jelas, dirinya payah sekali dalam menaklukan permainan.

“Ayahku pembuat mainan, itu Arcade.” Eri menunjuk salah satu kaset-kaset mainan, “Cara buatnya rumit. Kalau kamu tahu sih.” Selorohnya seraya duduk memeluk lututnya dan menggeleng ketika Tengai mengatakan kalau ia mengantuk, kamar pemuda itu bisa menjadi tempatnya untuk tidur. Tapi Eri belum mengantuk, masih banyak yang ingin ia ceritakan, pada laki-laki yang menjadi pesaing kasih sayang ibunya. Dari sudut matanya, ia melirik, mengawasi; sedikit rasa egoisnya perlahan surut, seperti terseret angin dan dara menaruh dagunya diatas tangan yang bertumpuk diatas lututnya.

“Adikku sering main kesini ‘kan?”

Terbit sebuah senyum kecut, kala ia mengingat adiknya yang selalu memenangkan Hikaru.

“Dia selalu cerita tentangmu dan mainanmu—“ Eri menatap kosong kaset-kaset permainan dan sebelum lamunannya tiba, ia meraih kotak susu dan menyeruputnya. Menghilangkan pikiran yang aneh, menyuduti Tengai Hikaru justru bukan apa yang harus dilakukannya sekarang karena saat ini bahkan ia berhutang budi pada Hikaru, kalau tidak ada pemuda ini maka ia tidak akan bisa melakukan apapun. Bisa jadi, ia hanya keluyuran di jalan, tidur di jalan, belum tentu penghuni apartment lain mau menerimanya dengan tangan terbuka, apalagi disini rasisme masih sangat nyata. Pikiran mereka jauh lebih kejam dari pembunuhan massal yang dilakukan Hitler kepada Yahudi, “—katanya dia mau kakak kayak kamu, bukan kayak aku.” Semburat tawa mengolok-olok dirinya sendiri, ia menoleh menatap Tengai.

“Mau main apa memang?”

--------------------

We're different and the same
We're a thousand miles from comfort, we have traveled land and sea. But as long as you are with me, there's no place I'd rather be. I would wait forever, exalted in the scene, as long as I am with you, my heart continues to beat. If you gave me a chance I would take it. It's a shot in the dark but I'll make it. Know with all of your heart, you can't shake me. When I am with you, there's no place I'd rather be
It's easy being with you, sacred simplicity

PM
^
Tengai Hikaru
 Posted: Jun 13 2017, 11:41 AM
Quote Post




Abang Ganteng Mirip Stuntman Hobi KM Yayasan Keluarga Hotaru Gak



#822
129
N/A






Rest In Pieces

Hotaru


anak pindahan pas kelas 3 *serah*

Otoko

Kyoto 140471

Fukushima

Tergantung situasi, biasanya rapi

Loyal|| Kalem|| Lebih dewasa ketimbang anak seumurannya

code name: Ace 11 || Undercover bodyguard || Jago main game judi (...) terutama yg model papan ama kartu

Awards: None




Seandainya Sugimoto Eri tidak hobi mondar-mandir dan hanya diam mantap layaknya anak penurut, cepat atau lambat dia akan merutuk bosan padanya yang fakir ekspresi. Ia tak ingat kapan terakhir tersenyum cerah bahkan berinteraksi normal dengan orang lain. Rasanya sudah lama sekali, tepatnya sebelum kehangatan keluarga yang menaunginya kandas. Alhasil memenjarakannya dalam dunia yang tak lagi diberkahi gradasi warna, monoton. Merengut geliat semangat dari kedua matanya yang kini menyisakan aura datar, persis air dalam cawan. Tuan Minato lah yang mengusulkannya bersekolah umum agar ia mampu bergaul dengan anak-anak seumurannya. Dilandasi prihatin mendapati Hikaru yang kerap memanfaatkan waktu luang dengan menamatkan satu kaset permainan.

Dan sosok yang pertama dikenalnya ialah putri tetangga sebelahnya. Justru semakin membuatnya berasumsi bahwa beradaptasi dengan teman sejawat bukanlah perihal mudah baginya yang baru kali ini meninggalkan sarang isolasi. Apalagi mengajaknya bicara—rasanya ia ingin angkat tangan duluan. Benaknya pun tak pelak bertanya-tanya; apa sikapnya kurang sopan? apa senyumnya yang samar malah diartikan sombong? apa ia lupa menyapa? apa kata-katanya ada yang menyinggung? Jujur ia tidak paham. Lantas memilih tidak menyuarakan komplain terkait tatapan sinis si gadis blasteran. Berhubung ilmunya, lebih-lebih pengalamannya terbilang masih dangkal dalam konteks sosialisasi.

Pun sepatutnya ia banyak berterima kasih dengan keluarga Sugimoto yang aktif membantunya sebagai pendatang baru. Salah satu buktinya, ia sering dikirimi kudapan manis oleh nyonya Sugimoto melalui perantara anak sulungnya. Bahkan perihal ia sudah makan atau belum, sehat kah, betah kah, selalu wanita itu tanyakan padanya. Lalu ia yang berekspetasi bakal bercokol dengan konsol game sendirian karena jauh dari tuan Minato yang biasa menemani, malah mendapat pengganti—rekan cilik yang setia menantangnya. Entah kenapa lambat laun, ia yang notabene asing ini malah seperti menjadi bagian dari keluarga orang lain. Sesungguhnya ia heran sekaligus bersyukur. Pasalnya tak ada yang mencolok dari pribadinya. Ia mana bisa membuat orang tertawa dengan satu dua lelucon karangannya yang serta merta hanya berupa kalimat kosong.

Suara Sugimoto belum hilang gaungnya, meski ia menyarankan untuk tidur mengingat malam yang bertambah larut. Kepalanya sekilas menoleh, menemukan sang dara yang kini duduk santai di lantai. Bola matanya bergerak mengikuti telunjuk yang mengarah pada kaset game koleksinya seraya memberitahukannya perihal ayahnya yang seorang game maker profesional. Sebetulnya ia sudah pernah dengar kehebatan mengcoding pria yang sehari-harinya hanya mendekam di kamar—persis hikkkomori. Sampai sekarang ia bahkan belum pernah bertatap muka langsung dengan ayah Sugimoto yang katanya pria Barat.

Ia pun merespon dengan anggukan dan kilat mata kagum, walau sejujurnya ia ingin menyela. Meralat apa yang disebut arcade oleh sang gadis bukanlah game yang tergeletak di hadapannya. Arcade game toh mesin permainan yang baru bisa dijalankan setelah diaktifkan dengan koin. Kalau di rumah tuan Minato ada banyak, berhubung luas. Jadi bibirnya hanya melepas gumaman,”souka.” –ketimbang jatuhnya salah ucap, alih-alih berpotensi membuat si gadis tersinggung.

“Lumayan.” Diraihnya satu kaset permainan, lantas dimasukkannya ke dalam mesin berbentuk kotak. “Terutama hari libur.” Hikaru tidak akan kaget jika tiba-tiba setelah ia sarapan, muncul pengunjung cilik yang sudah bercokol di ruang televisi dengan tangan yang sibuk mengobrak-abrik koleksi gamenya. Atau berlari menghampirinya sambil memamerkan permainan baru—bersoloroh bahwa laki-laki ini pasti belum pernah memainkannya. Padahal sebelum peluncurannya ia sudah pernah mencoba sebab ia tergabung dalam deretan pemain yang menjadi penguji sampel produk. Kecuali game buatan tuan Sugimoto, barulah ia mengaku belum.

“Kau sendiri bagaimana Sugimoto-san, senang punya adik laki-laki?”

Mungkin lewat pertanyaan ini ia akan menemukan penyebab kenapa dua kakak-beradik ini kerap berseteru. Kalau ia di posisi Sugimoto sulung, ia akan berusaha mengerti. Mungkin adiknya butuh sosok kakak laki-laki, sementara yang paling dekat jaraknya—notabene bertetangga, ya hanya Hikaru. Lagipula Sullivan masih anak-anak, tidak perlu direspon serius.

Matanya menatap layar memvusualkan tanda ia bisa mulai bermain dengan mengklik satu ‘perintah’.

“Hng.. balapan mobil.”—balapan liar dengan trek-trek ekstrim; jalan raya yang kebetulan lagi ramai, dan di pertengahan cerita ada polisi yang datang mengejar. “Mau coba? Tidak susah kok.” Disodorkan kontrolernya pada Sugimoto. “Siapa tahu pas lagi luang kau bisa main bareng Sullivan.” Nanti ia ajari sampai bisa, sampai ahli malah dan membuat Sullivan terbengong-bengong karena kakak perempuannya bisa mengalahkannya.

--------------------
Forgetting all the hurt inside, You've learned to hide so well. I’ve never been perfect. But neither have you. When my time comes. Forget the wrong that I’ve done. Help me leave behind some. Reasons to be missed. And don’t resent me. And when you’re feeling empty. Keep me in your memory. Leave out all the rest

♠♠♠ Leave Out All the Rest
PM
^
1 User(s) are reading this topic (1 Guests and 0 Anonymous Users)
0 Members:

Topic Options Reply to this topicStart new topicStart Poll


 


 

Affiliates [ View All | Link-us ]
Domain CO.NR Tower Prep RPG Socius Somnium Oozora Gakuen Toshima New Indo Durmstrang 
 


SEATTLE, WA., A SKIN BY REVO. OF RPG-DIRECTORY.COM (CBOX CODE BY KISMET)
Battle Royale © Koushun Takami
Forum belongs to Akuzawa Tadashi
Some modifications and forum buttons made by Akiyama Sakura
Graphics © Staffs